Biarkan Anak Mandiri
“Toni, jangan main ke sana, nak. Ayo, kemari. Itu kan jorok, nak”kata ibu Wati melarang anaknya bermain pasir-pasiran di depan rumah nya.atau ada lagi kasus ,” Tina, jangan main keluar nanti kamu jatuh.” dan lain-lain yang banyak pantangan atau larangan yang membuat anak sulit untuk mengeksplor aktivitas dan kecerdasan si anak. Jangan itu lah jangan ini lah, ya membuat si anak malah tambah malas nantinya.Malah si anak enggan untuk berpetualang dan jadi deh…si anak patu mama namun tidak kreatif. Sekarang kita tinggal pilih yang anak rumahan atau anak mama atau anak dengan segudang ide.
Jadi gimana dong, biar anak tidak diam…saja, tidak iya …ma,. Nah, ini kembali kepada kita pada orang tua terutama sang mama. Ayo, para gang ibu mari kita sama-sama mencari jalan untuk keberhasilan anak kita tanpa melukai dan mengganggu kreatifitas anak. Tidak ada salahnya loh, bu, kita belajar untuk kecerdasan anak dan menambah wawasan kita lagi. Jadi, harus sekolah lagi, ya???????????? Upss, tentu tidak dong bu, cuman kita lebih aktif mencari tahu dan lebihin dikit dong membaca mengenai perilaku dan kebiasan si anak. Jangan hanya beli majalah gosip atau fashion atau lifestyle. Anak lebih penting loh bu, dari semua itu. Jangan si mbok saja yang sibuk meladeni si kecil kita.
Saya paling demen sama majalah anak “NAKITA” atau yang lainnya juga banyak. Di situ banyak lo dibahas mengenai anak, dari mulai dalam kandungan sampai si anak usia sekolah. Saya juga dulu pusing amat deh lihat anak saya sekarang. Dia sudah berusia 2, 8 tahun dan si adikknya 10 bulan. Ada saja yang mereka lakukan sampai mumet nih kepala. Ada yang sibuk hancurin permainannya lah, kadangkala malah dia berani membongkar atau mempreteli sepeda motor ayahnya. Jadi gimana dong supaya tidak mumet nih kepala?. Yap, mari kita belajar bersama-sama, hehehhhahahah, heup benaran lho, belajar tidak salah bukan?
Ada beberapa saran atau solusi yang dapat saya berikan pada ibu yang pernah saya alami selama mengasuh Tafa dan Ail.
1. Jangan pernah katakan jangan pada anak
Pasti ibu di seluruh dunia sering mengatakan “Jangan” pada anak. Baik dalam keadaan lagi marah ataupun sadar. Anak di usia 0-12 bulan, bila dilarang mereka belum mengerti, namun kita dapat melarang mereka dengan menerangkan sambil bernyanyi atau dengan pujian. Misalkan anak kita yang berusia 10 bulan, biasanya sudah pandai merangka ataupun ada sebagian yang sudah pandai berjalan, mereka kebanyakan suka memasukan benda yang ada disekitar mereka yang dapat mereka raih/genggam dengan tangan kecilnya. Biarkan mereka meraih benda tersebut untuk melatih syarat motorik anak, namun kita tetap mengawasi kalau sampai-sampai benda tersebut masuk ke mulut. Bila anak sudah berusia 12-5 tahun, biasanya mereka malah lebih sulit dilarang “Jangan” karena mereka disaat usianya mencari hal-hal baru. Semakin dilarang mereka semakin besar rasa keingintahuan mereka. Malah mereka menjadi bingung, “apaan sih mama ini kok dilarang meluluh”. Malah membiarkan dengan keinginantahuan mereka menambah kecerdasan dan membuat mereka semakin aktif. Mendidik anak kita menjadi anak yang aktif.
2. Biarkan dia melakukan sendiri
Anak di usia 1-5 tahun, biasanya sudah mau melakukan hal-hal sendiri. Sekali-kali jangan kita larang. Biarkan dia melakukannya sendiri. Bila anak kita sudah mempunyai gigi, sudah waktunya diajari menggosok gigi, pertama sekali kita memberikan contoh dengan kebiasan kita menggosok gigi di pagi dan malam hari. Jangan lupa ikut sertakan anak, supaya mereka dapat melihat, dan akhirnya mereka dapat melakukannya sendiri. Biarkan mereka melakukannya supaya mereka tidak tergantung pada orangtuanya. Bila waktua makan biarkan mereka bergabung dengan kita dan mereka makan sendiri. Berikan sendok dan biarkan dia menggunakannya sendiri, walau mungkin banyak nasi yang tumpah, namun memberikan kepuasan pada anak. Biarkan anak bermain dengan kawan seusianya, jangan ibu larang dan ibu buntuti bila dia sedang bermain. Cukup di awasi dari jauh, mana tahu si kawan berbuat jail sama anak kita. Tapi ingat ibu, jangan dimarahi kawannya bila hal itu terjadi, cukup dinasehati saja. Satu hal ibu, bila memungkinkan ruangan kamar, ajari si anak untuk tidur sendiri bila sudah waktunya. Boleh lo, bu, di usia 3 tahun.
3. Tanya apa kemauannya
Jangan salah ibu, walaupun anak masih berusia di bawah 5 tahun, mereka sudah mau memilih atau menentukan apa yang mereka mau. Tanya mereka bila suatu saat kita hendak membelikan baju pada mereka, atau tanya mereka ingin makan apa, namun, jangan kita yang diatur mereka. Ada saatnya ibu juga konsisten dengan pilihan ibu, bila menurut ibu itu perlu dan benar.
4. Berikan pujian atau penilaian
”Aduh, kamu ini bagaimana sih!!!!Itu saja kok tidak tahu, makanya jangan nonton saja.” Ibu, jangan menghardik anak atau menghukum anak sebagai tersangka. Berikan dia solusinya, ibu memberikan penjelasan yang sederhana, jangan terlalu bertele-tele atau berbelit-belit, malah membuat si anak bingung. Misalkan” Tari, itu tidak baik, nak, coba bagaimana kalau Tari yang mengalaminya. Mau Tari begitu??. Si anak tentunya pasti berpikir, apa yang harus dilakukannya. Atau jangan lupa ibu, bila si anak melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan kita, berikan pujian. Tentu akan memicu si anak melakukan hal yang sama dikemudian harinya.
Bagaimana ibu, apa menurut ibu ini merupakan solusi yang memuaskan ibu
. Di sini saya hanya memberikan solusi berdasarkan pengalaman saja. Jadi, ibu, jangan lupa lo, sekali-kali manjakan anak kita, namun jangan berlebihan. Satu hal ibu, jangan terlalu ketat dalam hal prinsip, ingat si anak masih di bawah usia 5 tahun.Nanti malah si anak takut sama kita, bukannya hormat.
Semoga kita mecetak atau mendidik anak menjadi anak yang berguna bagi kita semua, jangan salahkan anak bila dia salah jalur nantinya, lihat kebelakang bagaimana kita mendidiknya di kala kecil dulu. Namun, bila kita sudah lakukan hal yang terbaik bagi anak kita, semoga anak kita dapat menanamkannya hingga dia dewasa.